Kasihan

 

Aku sedang menyeberang jalan untuk membeli nasi pecel ketika aku melihat seorang anak laki-laki berumur sekitar 8 tahun sedang duduk di trotoar.  Badannya cukup gemuk, tapi pakaiannya kumal, mukanya kotor, entah sudah berapa lama dia tidak mandi.  Saat itu dia sedang makan nasi bungkus, pasti ada orang yang memberinya.  Aku melewatinya dan dalam hati mengatakan "kasihan".

 

Setelah menunggu hampir sejam, aku baru dapat giliran dilayani.  Karena sudah lapar, aku cepat-cepat pulang sambil menenteng kantong plastik berisi 2 bungkus nasi pecel buat suami dan aku.  Dalam perjalanan pulang, aku melewati anak kecil gelandangan itu lagi.  Dalam hati aku bertanya dimana orang tua anak ini, apakah mereka tidak ingat punya anak, dan bagaimana anak ini bisa sampai di daerah sini.  Meskipun di sekitar rumahku ada kampung tetapi rasanya tidak mungkin ada yang harus menggelandang macam dia.

Sebelum makan seperti biasa aku berdoa, aku berterima kasih dan bersyukur masih bisa menikmati nasi pecel, tiba-tiba aku terbayang wajah anak gelandangan itu.  Mengapa aku tadi hanya melewatinya saja?  Mengapa aku tidak melakukan sesuatu baginya?  Anak itu bukan gelandangan yang menjengkelkan yang merengek-rengek minta uang pada orang yang lewat dekatnya.  Anak itu hanya duduk sambil menikmati makanannya, di pipinya ada butir-butir nasi yang menempel tapi ia tidak perduli.

Nasi pecel plus rempeyek kacang yang seharusnya enak itu tidak bisa aku nikmati.  Pikiranku tetap tertuju pada anak kecil itu.  Aku masih menimbang-nimbang apa yang harus aku lakukan pada anak itu.  Apakah memberinya uang?  Apakah aku ajak saja pulang dan minta ia mandi lalu memberinya pakaian bersih?  Kalau dia sudah mandi apakah aku minta ia pergi dari rumah?  Bagaimana bila ia tidak mau pergi, apakah ia harus tinggal di rumahku?  Dimana nanti tidurnya? Bagaimana bila suami dan aku pergi kerja, siapa yang mengawasinya?  Bagaimana bila ia mencuri?  Ada segudang pertanyaan berkecamuk dalam kepalaku.  Dan semua pertanyaan itu tidak terjawab.  Aku bingung sendiri, aku ingin menolong, tetapi aku tidak tahu bagaimana caranya.

Selesai makan baru aku bergegas mengambil kunci mobil dan pergi ke tempat di mana aku melihat anak gelandangan itu.  Tempat itu sudah kosong, aku mencarinya di seputar daerah itu, tapi aku tidak menemukannya.  Aku pulang dengan perasaan hampa, aku menyesal karena tidak bertindak dengan cepat.  Aku egois dengan mendahulukan kepentingan diriku sendiri ... setelah kenyang baru aku bertindak.  Hanya untuk menolong seorang anak kecil saja, aku masih memikirkan untung ruginya.

Aku membayangkan, mungkin ia pergi mencari ibunya ... tiba-tiba aku tersentak ... ya, anak ini pasti membutuhkan seorang ibu yang bisa memberinya kasih sayang, dan kehangatan.  Tentu saja aku tidak bisa menjadi pengganti ibunya, tetapi paling tidak aku bisa memberinya tempat berteduh sementara sambil mencarikan tempat yang lebih layak baginya, bukan di emperan toko dan menggelandang di jalanan.  Rasa sedih dan penyesalan berkecamuk jadi satu dalam dada ... tapi kini sudah terlambat, entah pergi kemana anak malang itu ...

Aku ingat Injil Lukas 10 : 25 - 37 yang menceritakan tentang perumpamaan orang Samaria yang baik hati.  Orang Samaria, yang dicap sebagai bangsa kafir, bangsa yang tidak mengenal Tuhan dan harus dijauhi, tetapi telah melakukan suatu perbuatan yang mulia dengan menolong orang yang tak berdaya.  Orang Samaria tidak mengenal siapa yang ditolongnya, tetapi orang Samaria itu rela berkorban dengan membawanya ke penginapan dan merawatnya.

Aku malu pada diriku sendiri, aku mengaku sebagai pengikut Kristus, aku mengaku berdoa dan membaca Kitab Suci setiap hari, tetapi aku tidak bisa mencontoh teladan hidup yang baik seperti yang diajarkan oleh Yesus sendiri. Aku tidak peduli pada anak kecil yang tak berdaya di pinggir jalan, bahkan menyapa pun tidak aku lakukan. Seharusnya aku mengatakan "kasihan" pada diriku sendiri karena aku hanyalah seorang pembaca Firman dan bukan pelaku Firman.