Getirnya Natal Tahun ini

 Pdt. Maulinus U Wellington Siregar *)

Teodisi

Hari Natal tahun ini kembali kita rayakan. Keadaan masih tetap sama seperti tahun lalu, dirayakan di tengah-tengah bencana global yang menghantam bumi kita. Isak-tangis dan derita berkepanjangan berlanjut. Hari-hari terus dilewati dengan kepiluan yang mendalam. Sebab, ternyata, bencana tidak berhenti dengan hancurnya bangunan, hilangnya harta benda-melainkan juga menyisakan kerisauan baru: bagaimana melanjutkan kehidupan serta bagaimana masa depan harus dilakoni dengan tawakal.

Orang Nias mengungsi ke gunung-gunung meninggalkan rumah mereka yang sudah hancur. Mereka takut, bencana susulan sewaktu-waktu akan terjadi lagi. Sementara penduduk New Orleans, meski berkali-kali diyakinkan untuk kembali oleh walikota dan pemerintah local,  hasilnya tetap tidak maksimal; alasannya adalah karena trauma dengan kejadian itu. Lalu, di Kashmir-Pakistan, disamping hilangnya 53.000 nyawa juga menyisakan persoalan sosial yang akut, yaitu : 2 juta orang akan menjadi penganggur baru. Astaga, mengapa hal itu terjadi ?

Teodisi mencuat kembali. Wacana tentang keadilan Allah  mengemuka menjadi pusat percakapan pemerhati dan cerdik-cendikia agama dalam satu tahun terakhir ini. Besarnya perhatian pada masalah teodisi ditengarai akibat  bencana alam besar yang beruntun itu. Mereka mencoba merefleksikan segenap bencana alam itu dengan kearifan dan kebajikan-kebajikan spritualitas yang meditatif.  Badai Katrina, gempa di Nias dan Kashmir dimaknai dan ditangkap dalam konsep/pemahaman teodisi. Tuhan sedang bersuara  kepada kita, bahwa keadilan-Nya akan tetap berbicara kepada manusia di sepanjang jaman. Tuhan, tidak pernah tinggal diam. Ia bersuara, meski manusia sering menafikan, mengangap sepele dan mengabaikan.

 

Getirnya hidup

Sayangnya, bencana alam ternyata bukan kisah tunggal yang mencatat kisah derita manusia. Kisah-kisah lainnya bertaburan. Seorang murid Sekolah Dasar, kelas IV dan masih berusia 10 tahun menggantung diri di kamarnya hingga tewas. Penyebab utama tindakan nekat itu adalah karena takut dimarahi gurunya; hanya oleh perkara sederhana kewajiban mengenakan pakaian seragam pramuka. Kisah lainnya terjadi kepada Desy Fabrianty umur 15 tahun yang dikawinkan dengan pemuda Arab, yang membayar  imbalan U$ 800 sebagai uang mahar. Perkawinan terjadi,  semata-mata untuk menyenangkan orangtua.  

Astaga…, adakah kedua kisah ini, sungguh-sungguh menyentak hati kita, betapa ironisnya kehidupan masyarakat kita kini. Dan hari-hari ini kita menyaksikan dengan kasat mata semakin  hilangnya akal sehat dan lumpuhnya kesadaran kita menerima realitas yang membentang di depan. Anehnya, setiap peristiwa itu, tak mengenal kategori usia. Sewaktu-waktu dapat terjadi kepada siapa-pun: tua-muda, anak-orangtua. Pernyataan ini didukung oleh fakta yang menyeruak, yaitu bahwa ada begitu banyaknya peristiwa-peristiwa tragis-ironis semacam itu, yang terjadi di berbagai belahan Nusantara kita, serta, akhirnya menjadi  pemandangan sehari-hari.

Getirnya hidup masyarakat kita kini berada di titik puncak. Suara mereka tidak didengar. Jeritan mereka tidak dipedulikan. Tangisan mereka dianggap palsu. Keprihatinan mereka diangap mengada-ada.  Mereka mulai kehilangan harapan. Penderitaan panjang itu, akhirnya membawa manusia pada sikap putus asa. Angka bunuh diri meningkat. Jumlah manusia yang terkena penyakit jiwa bertambah. Nilai-nilai agama, ternyata ‘tak dapat membendung pergolakan hidup mereka. Kondisi sosial/budaya/ekonomi membentuk mereka rentan dan kehilangan identitas diri. Sebab dari waktu ke waktu, tuntutan antara harapan dan kenyataan, semakin jauh meninggalkan kehidupan kita. Bahkan dianggap tidak berpihak lagi kepada mereka.

Sementara itu, getirnya hidup yang menjadi tontonan telanjang, banyak pihak yang justru sengaja mempertontonkan ironi kehidupan. Pejabat Negara membahas penambahan gaji dan tunjangan jabatan dalam skala jutaan, meski sementara tuntutan peningkatan gaji buruh dalam hitungan ratusan ribu, demikian sulitnya diperjuangakan. Lain kisah anggota parlemen kita,  atas nama kepentingan Negara berkunjung ke luar negeri dengan menghambur-hamburkan uang Negara yang tidak sedikit. Sementara, anggota DPR menerima tunjangan Rapel puluhan juta rupiah. Sayangnya, hanya satu orang yang mampu menangkap getirnya hidup masyarakat, lalu mengembalikan uang tunjangan itu.

Masyarakat kita, kini merasakan getirnya hidup itu. Petani sulit mencari pupuk. Sementara itu hasil-hasil pertanian mereka kini diancam oleh membanjirnya produk global, yang tentu menguntungkan pengusaha. Buruh masih berjuang untuk mendapat gaji yang memadai. Belum lagi ancaman PHK semakin melemahkan perjuangkan mereka menuntut hak.

Kegetiran demi kegetiran menjadi benalu yang sewaktu-waktu siap memicu kenekatan, hilangnya kesadaran dan akal sehat, serta yang jauh lebih berbahaya mengambil jalan pintas sebagai pilihan akhir, yaitu : bunuh diri.

 

Natal dan Harapan Baru

Natal justru hadir saat ini untuk mengingatkan kita, bersama Yesus kita hidup. Bersama Yesus kita diyakinkan, bersama Yesus kita kuat dan akan mampu berjalan. Bersama Yesus kita mampu Bekerja dan berkarya. Jauhkan segala rasa takut/putus asa. Sebab Anda tahu, bahwa rasa takut itu  setiap waktu akan terus mencoba memberi nyawa pada gerak pikiran dan juga memalsukan setiap alasan kita. Rasa takut terus mencoba menindas kita, lalu kita secara tidak sadar memberi : jantung, darah dan nadi bagi ketakutan itu, sehingga ia tetap mengendalikan kita.

Natal justru menjungkirbalikkan segenap ketakutan.  Meminjam istilah pengarang Kristen-pengkhotbah kesohor Rick Warren yang bertanya kepada kita, apa yang anda temukan pada natal tahun ini ? jawabnya : Anda kan menemukan apa yang selama ini Anda cari.   Pertama : pengampunan, kedua : ketentraman, ketiga : hidup kekal. Kita menemukan segala yang kita cari, hanya kepada Yesus.

Meski dengan segenap kegetiran hidup kita saat ini, spirit Natal justru menjadi kisah ajaib yang mengalirkan energi yang baru bagi kita, untuk menyandarkan diri kepada Yesus : sang harapan dan penawar sukacita.

Di masa Natal ini, ajaran Kristiani justru bersuara tegas bahwa kita umat Kristen, mesti berjuang untuk membagi kabar sukacita Yesus itu dalam mengantarkan  dialog kehidupan. Mari,  duduk bersama dan terus membangun persepsi yang baik serta menkonstruksi peradaban hidup yang terbuka, toleran. Kita harus berani membangun kehidupan bersama di alam kemajemukan itu ( courage to be, meminjam istilah Paul Tillich ). Yesus sang kehidupan justru mengajak kita untuk membangun persaudaraan sejati. Yesus mengajar kita untuk memulihkan martabat sesama dalam karya-karya pastoral yang terus menyuburkan semangat inklusifitas.

Natal, justru rute keselamatan yang dipilih Allah supaya kita orang berdosa dapat diangkat martabatnya, diselamatkan hidupnya. Marilah kita menjadikan momentum Natal untuk mewartakan segala kabar baik Yesus kepada semua orang, bahwa Ia menyelematkan hidup. Bahwa Ia memberi harapan yang baru. Amin ! Selamat Natal

 

Pendeta HKBP California, Dec 2005